Tampilkan postingan dengan label Kartini. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kartini. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 23 April 2011

9 Kriteria Kartini Modern

Wanita Energik

Sosok Kartini identik dengan perjuangan wanita Indonesia untuk bisa memiliki kesempatan yang sama dengan pria. Tidak heran kalau tanggal kelahirannya, 21 April, dijadikan momentum semangat oleh seluruh wanita Indonesia. Menurut DR. BRA Mooryati Soedibyo, untuk bisa memiliki kesempatan yang sama dengan pria, wanita harus melawan rasa takut.

"Banyak wanita kalau belum memulai itu takut untuk maju, padahal mereka punya keinginan," katanya saat meresmikan Women Entrepreneurship Academy (WEA), Kamis, 21 April 2011, di Jakarta.

Menurut pengusaha kosmetik itu, rasa takut membuat masih banyak wanita yang tertinggal di berbagai bidang termasuk pendidikan, sosial, dan perekonomian. Bahkan, dalam hal karier, wanita diketahui hanya mendapatkan pendapatan sepersepuluh dari total pendapatan di Indonesia.

Hal ini menunjukkan bahwa walaupun bekerja, penghasilan wanita masih dinilai lebih rendah dibandingkan pria. Untuk itu, menurut Mooryati Soedibyo wanita Indonesia itu harus memiliki 9 sifat (9T) yaitu:

1. Toto atau pengaturan yang baik.
Wanita harus dapat mengatur dan mengembangkan hidupnya secara teratur dengan selalu memiliki rencana tentang apa yang akan diraih selanjutnya.

2. Titi atau akurat.
Dalam mencapai keinginannya, wanita harus memperhitungkan secara akurat kemampuannya.

3. Titis atau mengena.
Wanita harus merealisasikan keinginannya sesuai dengan tujuan.

4. Tatak atau berani.
Wanita tidak boleh takut dalam menghadapai tantangan jaman, dan takut terhadap persaingan antara wanita dan pria.

5. Tatas atau efektif.
Selalu melakukan sesuatu dengan pemikiran yang luas dan rencana yang kuat.

6. Tetep atau konsisten.
Dalam menjalankan kehidupan atau bisnisnya, wanita harus konsisten dan tidak boleh cepat bosan dan putus asa.

7. Tanggap atau responsif.
Wanita harus selalu tanggap dalam melihat berbagai macam peluang yang dimilikinya. Jangan sampai terlewat satu pun.

8. Teguh.
Wanita harus memiliki keyakinan yang kuat dan tidak dapat diombang-ambingkan dengan kondisi.

9. Trengginas.
Wanita harus aktif, terampil, dan lincah.

Dari segi perundang-undangan sendiri, menurut Menteri Pemberdayaan Wanita dan Perlindungan Anak, Linda Agum Gumelar, saat ini sudah mulai mempertimbangkan hak-hak wanita.  "Kita boleh bersyukur karena sekarang di dalam undang-undang tidak ada batasan antara wanita dengan pria," ujarnya pada kesempatan yang sama.

Namun, fakta menunjukkan masih banyak wanita Indonesia yang jauh tertinggal dari pria. Menurut Linda, salah satu faktor penghambat perkembangan wanita Indonesia adalah masih kentalnya budaya partriarki di beberapa daerah di Indonesia.

"Masalah yang masih kita hadapi adalah budaya partriarki yang masih kuat di beberapa daerah sehingga tidak memberikan ruang terhadap wanita untuk beraktivitas selain aktivitas rumah tangga," ujarnya. (sj)


• VIVAnews

Cerita Dua Kartini Masa Kini

Seorang wanita menyiapkan bahan pembuat jamu

Kisah Raden Ajeng Kartini dengan cita-citanya pada pemberdayaan wanita, pendidikan dan kesetaraan kesempatan telah berlalu puluhan tahun lalu. Namun lebih dari satu abad kemudian, semangatnya tetap dirasakan para wanita Indonesia.

Seperti kisah Mooryati Soedibyo. Ia merupakan pengusaha wanita sukses dan bisa dikatakan mendobrak budaya yang cenderung selalu berada di belakang kaum pria. Wanita berusia 83 tahun ini bercerita, ia dibesarkan dalam keluarga yang sarat nilai tradisional bahwa istri harus selalu mendukung suami.

"Didikan orang tua bahwa istri tidak perlu bekerja jika suami telah memiliki pekerjaan yang baik. Tapi saya memang berkeinginan untuk maju dan meningkatkan taraf hidup saya," katanya pada Kartini Day Women Executive Forum bertema Women Empowerment : New Age Women, di Jakarta.

Menurut Moor yang awalnya berniat menjadi duta besar, tujuan, tekad serta semangat yang kuat membuat usahanya tak goyah saat menemui hambatan. Setelah mendapat restu suami dan keluarganya, ia lantas menciptakan usaha yang menjadi hobinya selama bertahun-tahun yaitu pada jamu tradisional Jawa.

 "Saya merasa harus menciptakan jamu yang lebih praktis, efisien dan bermanfaat," katanya

Tak hanya mendapat tantangan dari keluarga, pengetahuan masyarakat soal jamu yang masih awam memberi tantangan tersendiri. Untuk mengubah pandangan negatif di era 1975-an, Moor memilih untuk mendekati masyarakat disekitarnya dan memberitahu mengenai manfaat usaha jamu.

"Kami berikan penjelasan bahwa berusaha dengan tetap memperhatikan keluarga akan membuat  perempuan juga bisa menghasilkan," kata Moor.

Usahanya tak sia-sia. Produk jamu Mooryati telah menembus pasar dunia dengan puluhan ribu karyawan dan tercatat sebagai perusahaan besar di Indonesia . Mooryati, mengingatkan perlunya konsisten untuk menjalankan usaha meskipun mengalami pasang-surut dan kegagalan. Dia pun ingin menyebarkan kepada perempuan Indonesia mengenai kewirausahaan dengan mendirikan akademi wirausaha.

Kisah lain datang dari Santi Mia Sipan. Berawal dari seorang profesional yang berpindah-pindah kerja hingga delapan kali. Pada akhirnya ia kini menjadi Direktur Utama. Dari seorang pekerja, Santi membuat keputusan untuk menjadi seorang pengusaha.

Sambil bekerja, ia membangun jaringan multi level marketing (MLM). Setelah seluk beluk usaha ia serap, Santi banting setir dengan meninggalkan pekerjaan dan mendirikan usaha yang tak biasa dilakoni perempuan, perkebunan jati.

"Kuncinya adalah passion dan desire. Saya yakin aktualisasi diri, mandiri dan beribadah dan memberi sesuatu positif kepada orang lain adalah keberhasilan," kata Santi.

Pengusaha wanita yang kini membawahi 200 petani jati ini memberi tahu kiatnya dalam berusaha. "Lakukanlah sekarang dan peluang Anda berhasil 50 persen. Kerjakan sekarang dengan keyakinan akan membuat peluang keberhasilan menjadi 90 persen," katanya. (eh)


• VIVAnews